Jujur Sejujur-jujurnya Tentang Kuliah di Amerika Serikat (Part 1: Introduction, dan Perihal Berteman dengan Bule)

Hello! Gue bakal nulis tentang pengalaman gue kuliah di Amerika sebagai salah satu metode diversifikasi blog gue yang gue wacanain di beberapa post gue sebelomnya. Setelah gue lihat balik pengalaman gue disini, gue percaya pengalaman gue menarik buat diceritain. Mungkin ini rangkaian post pertama gue soal belajar di Amerika, mungkin ini bukan. I’ll write when I feel like I have something worth sharing, I guess. Sebelum gue mulai, gue mau kasih disclaimer: pandangan yang gue kasih di post ini adalah pandangan gue sendiri, dan pengalaman ini adalah pengalaman gue yang mungkin gak relate sama pengalaman orang lain. Gue sih harap tulisan ini membantu lo untuk dapat gambaran studi di Amerika. Dan semua nama yang gue sebut disini disamarkan demi keleluasaan pribadi orang-orang yang gue sebut.

Jadi, ya, seperti yang lo tau, Agustus lalu gue pindah ke Seattle, Washington buat kuliah gue. Ya, tepatnya bukan di Seattle, Washington sih… Gue belajar di sebuah community college di Auburn, Washington, kira-kira 46 kilometer dari kota Seattle. (Google aja. Cuma ada satu community college di Auburn.)

Bentar… community college? Apa bedanya community college sama universitas? Universitas itu institusi pendidikan 4 tahun dimana lo masuk, pilih jurusan, belajar di jurusan itu selama 4 tahun, nulis skripsi/ikut internship (enaknya disini banyak universitas yang nawarin internship sebagai ganti dari nulis skripsi), terus lulus dan dapat gelar sarjana/master/doktor. Biasanya universitas isinya anak-anak lulusan SMA yang mau lanjutin studi mereka dan masuknya lumayan kompetitif. On the other hand, community college itu gak kompetitif sama sekali. Programnya untuk anak-anak lulusan SMA itu masuk, belajar 2 tahun, terus transfer ke universitas dan belajar 2 tahun lagi di sana. Ada juga pilihan gelar associates (bisa disamain sama D3 lah) yang bisa diraih sebelom transfer, dan ada beberapa college yang nawarin gelar sarjana, tapi biasanya buat pendidikan vokasi/karir; contohnya di college gue mereka nawarin program buat court reporting (ngetik transkrip sidang), design drafting (gambar diagram teknik), dan welding (lebur besi). Nah, karena terjamin masuk dan harganya murah banget dibanding universitas, community college punya stigma sendiri tentang pendidikannya yang kurang berkualitas dibanding universitas. And sometimes people shit on me because of that.

Orang-orang Indonesia di circle gue kadang-kadang sinis abis sama pilihan gue. Pat kan pinter, kenapa gak langsung masuk uni aja? Pat, harusnya lo bisa masuk University of Washington loh! Mending cari beasiswa aja, Pat, dan seterusnya. First of all, gue bokek. Dan jujur, gue gak nyesel sama sekali masuk community college karena ada keuntungannya sendiri. Memang, community college itu cesspool buat orang-orang yang ditolak masuk universitas yang mereka apply dan buat bapak-bapak dan ibu-ibu yang mau pilihan karir lain, atau melanjutkan pendidikan mereka setelah di-delay karena satu dan lain hal. Memang, dosen-dosen di community college gak semuanya punya gelar doktoral (dari 7 dosen yang pernah ngajar gue so far, cuma satu yang punya gelar doktoral – sisanya gelar master). Tapi, gue belajar banyak di community college.

Pertama, kalo gue gak masuk community college, gue bakal stuck di universitas yang gue pilih karena reputasi dan gengsi orangtua tapi turns out gak cocok sama tujuan hidup gue. Plan gue adalah untuk double major di ilmu komputer dan teater, dan di community college, gue dapet banyak banget bimbingan dari advisor akademis gue soal opsi universitas yang bakal cocok sama gue. Kalo gue gak masuk community college, gue gak akan tau ada model universitas yang punya kurikulum DIY dimana lo bisa lulus dengan gelar sarjana dari dua bidang sekaligus tanpa harus ambil double major. Gue gak tau bahwa lebih baik milih universitas yang terbaik untuk major lu dibanding universitas yang terbaik secara overall. Gara-gara itu, gue jadi lebih ngerti landscape edukasi Amerika Serikat yang awalnya gue blur banget.

Selain itu, tipe orang yang gue temuin beragam banget, ditambahin sama college gue yang program internasionalnya kenceng banget (kira-kira 1700 dari 8500 pelajar tetap itu dari luar Amerika). Dan selain bapak-bapak dan ibu-ibu, Washington state punya program Running Start, yang berarti anak-anak eksepsional dari jenjang SMA bisa jadi siswa part-time/full-time ngambil kelas-kelas level college di community college. Jadi ya, diverse abis. Dari mulai bapak-bapak dan ibu-ibu yang gue bilang tadi, ada beberapa yang kasih gue life advice. Waktu itu gue pernah makan di kantin dan semeja sama bapak-bapak di kelas matematika gue. Ternyata bapak-bapak itu putus sekolah arsitektur karena satu dan lain hal terus masuk college buat ganti karir jadi electrical engineer. Dia kasih saran ke gue buat milih major yang anti-mainstream karena susah nyari kerjaan untuk major-major populer seperti arsitektur. Well… gue pernah kepikiran ambil arsitektur sih, dan setelah gue liat employment arsitektur, gue jadi minder. Plus gue gak bisa gambar.

Ada juga bapak-bapak keren abis yang gue ketemu di salah satu kelas gue. Dia pengacara yang udah lama tinggal di Texas tapi balik ke Washington state soalnya dia lahir disini dan pengen ~go back to his roots~. Dia ke college karena mau ganti karir jadi pilot, tapi dia punya passion di bidang akting, and my God, he is so damn good. Gue barengan kelas akting sama dia, dan dia aktingnya salah satu yang paling jago di kelas. Quarter berikutnya, dia main di produksi kampus jadi Stanley Kowalski di “A Streetcar Named Desire”, terus, gue ga boong, dia bikin Marlon Brando kerasa miscast.

(BTW, di kampus gue kita pake sistem quarter, bukan semester, jadi tahunnya dibagi 4 quarter: winter, spring, summer, fall. Terus kita bisa ambil libur di quarter summer.)

Selain itu gue ketemu banyak banget orang dari berbagai latar belakang. Ada orang Afghanistan yang secara spesifik mau kerja di Amerika, anak bule lokal Running Start yang punya rumah bagus banget di gunung-gunung dan bisa 5 bahasa, anak yang pindah dari California buat mulai hidup baru disini, imigran, anaknya imigran, macem-macem deh. Gue jadi bisa melihat kehidupan dari berbagai perspektif.

Jadi ya, gue gak nyesel sama sekali masuk ke community college. Dan gue gaakan abis abisnya berterimakasih sama orangtua gue yang nyekolahin gue disini, karena banyak banget hal-hal yang gue belajar di sini yang gak akan gue dapet kalo gue tinggal di Indonesia. Emang awalnya susah. Tapi, all of it is worth it. Kata profesor teater gue, dia kagum sama anak internasional karena kita “brave” abis. Ya, keberanian itu tuntutan dari hidup di luar negeri sih. Lo terpaksa berani, soalnya kalo lo ga berani, lo susah hidup.

Dan beberapa rangkaian post ini adalah tempat di mana gue bakal ceritain beberapa anekdot soal hidup di luar negeri. Biasanya gue baca artikel-artikel buatan orang-orang kayak gue yang isinya, ya, “it’s exhausting at first! Culture shock! But you’ll be fine because you’ll get new friends and new experiences…” Dan sebagian besar dari artikel-artikel itu bernada kayak promo surface level banget biasanya… Di sini gue pengen jelasin beberapa pengalaman gue secara spesifik di ~negara asing~ ini dan harap bisa relate ke lo pada yang sekolah di sini (tentu aja enggak, soalnya pengalaman setiap international student pasti beda-beda) atau setidaknya memberi gambaran lah ke lo pada yang di Indonesia. Kali ini gue akan mulai dengan diskusiin gimana caranya pencitraan biar temen-temen lo di Indonesia nganggep lo temenan sama bule terus. So.. let’s start!

Salah satu hal yang ditakutin orang waktu pindah ke negara lain itu culture shock. Nah, culture shock itu bisa datang dalam berbagai bentuk, mulai dari hal besar seperti gak sreg sama cara hidup di sini, sampai hal kecil seperti salah ucap beberapa kata. Di section ini gue bakal ceritain beberapa pengalaman gue sama culture shock yang berhubungan sama pergaulan; mungkin nggak apa yang lo expect, tapi ya sudah lah.

Sebelum gue ke Amerika, gue ngeliat post social media kakak kelas gue yang kuliah di Amerika. Isinya sama anak Indonesia semua. Nah, sebelum gue cabut, gue sempet berpikir bahwa gue gak boleh jadiin temen-temen Indonesia gue temen reguler gue. Dan gue yang sekarang pengen banget nampar diri gue yang dulu sambil bilang, itu gak semudah yang lo pikirin, Pat.

Temenan sama orang di luar orang Indonesia itu susah. Bukan karena rasisme atau apa ya, tapi tendensi utama manusia untuk gaul sama orang yang mirip mereka. Birds of a feather flock together. Dari pengalaman gue, gue belajar bahwa ini gara-gara perbedaan bahasa dan budaya, dan itu bikin usaha ngobrol dan temenan sama orang di luar budaya lu jadi 2x lebih susah. Lebih banyak miskomunikasi dan kesalahpahaman.

Gue sendiri mencoba, sih. Waktu orientasi, temen gue di kampus orang Indonesia semua, karena semua percakapan dimulai dengan “Eh, lo juga orang Indonesia ya?” Tapi selama orientasi berlangsung, kelompok temen semipermanen gue dateng dari berbagai bangsa; ini gara-gara gue ngetag kemana-mana sama temen Indonesia gue (anggap namanya Gaby) yang punya kemampuan bersosialisasi lebih hebat dari gue (Nah, itu juga salah satu tips survival kuliah; kalo lu kurang dalam bersosialisasi, jagalah baik-baik temen lo yang jago bersosialisasi. Otomatis lo bakal punya temen banyak karena lo temenan sama dia.) Jadi, temen-temen semipermanen gue selama quarter pertama gue di Green River itu dua cewe Belanda, satu cowo Myanmar, satu cewe Jepang, satu cowo Ukraine dan pacarnya yang orang bule lokal, dan dua orang Indonesia.

Screen Shot 2017-05-10 at 9.58.37 PMTemen-temen semipermanen gue (minus si cewe Jepang).

Tapi, ya, persahabatan ini gak lama. Dua temen Belanda gue itu cuma satu quarter di sini, terus mereka ke lain tempat. Yang orang Ukraine sama orang lokal udah sibuk pacaran. Yang orang Myanmar menjauh gara-gara alasan terselubung dia gabung sama kelompok persahabatan ini itu buat deketin salah satu temen Belanda gue itu. Yang orang Jepang dapet pacar terus sibuk pacaran. Sisanya tinggal kita, tiga orang Indonesia itu. Si Gaby dan (sebut aja namanya itu) Felix.

Gue tetep aja keukeuh sama misi gue buat gak temenan sama orang Indonesia banyak-banyak. Nah, cara pertama gue buat stick sama misi gue itu ya memperkuat pertemanan sama orang-orang kayak Gaby – orang Indonesia yang banyak gaul sama orang bukan Indonesia. Gue kenal cukup banyak temen dari Gaby. Gue juga kenal anak-anak OSISnya sana dari Felix. Gue temenan baik juga sama satu anak Indonesia lain, sebut saja namanya Laras, yang roommate sama anak dari Kazakhstan, sebut saja namanya Lati. Dan, advantagenya, si Lati ini kenal sama banyak orang ganteng, jadi ya, ehe…

Cara kedua gue buat stick sama misi gue itu adalah join club dan organisasi yang banyak. Karena di lingkungan organisasi ini lo dipaksa untuk gaul sama orang yang berbeda sama lo. Tapi enaknya, meskipun lo dipaksa gaul sama mereka, interest lo masih sama dengan dia. Di klub Sisterhood gue bertemu dengan orang-orang feminis dari berbagai bangsa. Di honor society Phi Theta Kappa (klub scholarship dan service dimana lo bisa masuk kalo IP lo diatas 3.5) gue bertemu dengan orang-orang gaul dan pinter dari berbagai bangsa. Dengan ikut Students of Color Conference gue ketemu orang-orang yang peduli sama rasisme dan isu sosial lainnya dari berbagai bangsa.

Screen Shot 2017-04-09 at 9.33.37 AM.pngTemen-temen dari Students of Color Conference.

Cara ketiga gue buat stick sama misi gue itu adalah ambil kelas yang gak umum atau yang jadwalnya beda sama temen-temen lu yang umum. Dengan itu kan lo jadi musti punya temen di kelas buat kalo lu absen, bisa ada yang update lo. Dan semakin banyak kelas gak umum yang lo ambil, semakin banyak temen baru yang lo punya.

Hal ini bisa jadi kurang bagus sih; jadinya bisa aja yang temenan sama lo cuma buat study buddy and nothing else. Salah satu contohnya adalah cewe bule di kelas English gue. Dia sok sok ramah gitu sama gue, tapi kan gara-gara gue butuh temen yaudah gue ikut ikut aja gitu kan. Terus di akhir kelas dia minta nomor telpon gue, terus hal pertama yang dia bilang itu “yay study buddies!” Welp. Definitely not gonna be a true friend. Tapi ya, gue ngerasa kelas Inggris itu kurang sreg buat gue, jadi gue drop kelasnya. No more study buddy for you girl.

Tapi itu cuma satu contoh. Sisanya fine-fine aja, sih. Tugas-tugas itu bakal ngeeratin persahabatan lo. Contohnya, gue temenan sama anak teater yang rela naik bus 3 jam bolak balik demi nonton musical di Seattle utara buat tugas kelas teater. Yha begitulah.

Dan untuk sisanya, ada beberapa temen yang gue kenal gara-gara satu dan lain hal yang gak umum. Gue kenal sama dua temen gue yang sama-sama suka musikal, sebut saja namanya Ryan dan Brandon, dari sesi acapella impromptu di kantin. Jadi, gue sama Gaby waktu itu lagi mikirin apakah suara nyanyi gue bagus ato engga, jadi gue nyanyi “A Whole New World”. Terus mereka ikut nyanyi (mereka ada di meja lain btw). Terus tiba-tiba ada satu orang yang musik banget yang duduk di seberang meja gue. Orang itu kasih komentar soal suara gue, terus ajak Ryan dan Brandon ke meja kita buat nyanyi aransemen acapella yang dia bikin. Suara mereka bagus! Nggak lama kemudian orang itu harus pergi kelas, tapi gue, Gaby, Ryan, dan Brandon ngobrol dan nemuin kalo kita semua sama-sama suka teater musikal; jadi temen deh.

Screen Shot 2017-05-10 at 10.37.15 PM.pngBrandon, Gaby, dan Felix

Screen Shot 2017-05-10 at 10.38.22 PM.pngRyan, Chris (sebut saja namanya begitu – temennya Ryan) dan gue

Oke, itu beberapa dari taktik gue untuk temenan sama orang-orang dari berbagai background. Ini bukan berarti lu putus kontak sama sekali sama orang Indonesia ya. Temenan sama orang-orang dari negara asal lu berguna banget kok. Kalo lu memutuskan untuk temenan sama orang-orang dari negara lu, lu nggak lebih cupu dari orang-orang yang temenan sama orang dari negara lain kok. Gue tahan sama visi gue mainly gara-gara pencitraan sih, awalnya. Tapi dari gaul sama orang-orang dari berbagai latar belakang, gue jadi bisa belajar budaya lain dan bisa terbuka soal perspektif lain.

So, that’s it for this post! Stay tuned for more topics about studying in the United States!

Advertisements

Published by

patriciaksmngtys

Patricia K. is an Indonesian computer science and theatre student based in Seattle, Washington. When she's not busy coding in Python or understanding Edward Albee's plays, you can find her watching movies or talking about them.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s